Home Budaya Respons Krisis Literasi Digital, Forum TBM Jawa Timur Perkuat Sinergi Lewat Jambore...

Respons Krisis Literasi Digital, Forum TBM Jawa Timur Perkuat Sinergi Lewat Jambore 2026

47
0

KAMINEWS.COM – Ada sebuah ironi yang tumbuh subur di layar gawai kita hari ini: banjir informasi yang melimpah ruah, namun berbanding terbalik dengan kedalaman berpikir. Di era ketika jempol bergerak jauh lebih cepat daripada logika, masyarakat kita kerap terjebak dalam pusaran disinformasi, hoaks, dan budaya “berbagi tanpa membaca”.

Namun, di sudut-sudut wilayah Jawa Timur, sebuah perlawanan budaya yang sunyi namun bertenaga sedang digerakkan. Bukan dengan angkat senjata atau petisi di media sosial, melainkan melalui barisan buku, ruang diskusi, dan ketekunan para pegiat akar rumput yang tergabung dalam Forum Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Jawa Timur.

Mereka sedang membongkar stigma usang. TBM tidak lagi boleh dipandang sekadar sebagai “gudang buku berdebu” tempat menyimpan donasi yang terlupakan. Hari ini, TBM bermutasi menjadi ruang ketiga yang hidup, hangat, kreatif, dan berdaya.

Panggung Hangat di TBM Al-Madinah: Bukan Sekadar Kumpul-Kumpul

Manifestasi dari gerakan perlawanan ini mengkristal dengan indah dalam gelaran Jambore Literasi TBM Jawa Timur 2026. Mengambil tempat di TBM Al-Madinah, acara yang berlangsung selama dua hari penuh, Jumat–Sabtu (15–16/5) lalu, bertransformasi menjadi episentrum konsolidasi para pejuang literasi se-Jawa Timur.

Jambore ini bukan sekadar ajang seremonial atau ruang nostalgia. Ini adalah laboratorium taktik, tempat para pegiat membedah tantangan zaman dan membuktikan bahwa gerakan literasi berbasis komunitas masih memiliki napas yang sangat panjang.

Kehadiran para pemangku kebijakan dan tokoh literasi dalam acara ini menegaskan bahwa gerakan akar rumput ini tidak berjalan sendirian. Hadir di antaranya:

  • Puji Retno Hardiningtyas (Kepala Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur)
  • Amin Mulyanto (Tim Kerja Literasi BBP Jatim)
  • Dwi Astutik (Pembina Forum TBM Jatim)
  • Neng Eva Munif Djazuli

Dalam salah satu sesi paparan yang memikat, Kepala Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur, Puji Retno Hardiningtyas, menggarisbawahi redefinisi makna literasi di abad 21.

“TBM memiliki posisi strategis dalam membangun budaya literasi masyarakat di tengah derasnya arus informasi digital,” tegas Puji Retno.

Ia mengingatkan bahwa literasi hari ini bukan lagi perkara hulu—seperti sekadar bebas buta aksara atau kemampuan mengeja teks. Literasi modern berada di wilayah hilir: tentang bagaimana masyarakat mampu berpikir kritis, menyaring informasi, memahami konteks, dan menggunakan teknologi digital secara bijak demi kemaslahatan hidup.

Lompatan Visi: Dari Lembar Buku Menuju Pemberdayaan Ekonomi

Jika merunut sejarahnya, TBM sering kali hanya dikaitkan dengan aktivitas membaca anak-anak. Namun, dalam Jambore 2026 ini, Forum TBM Jatim sepakat untuk melakukan lompatan visi yang jauh lebih progresif.

Ketua Forum TBM Jawa Timur, Jauharul Abidin, menggarisbawahi satu poin krusial mengenai keberlanjutan (sustainability) gerakan ini. Menurutnya, TBM tidak bisa lagi berjalan secara soliter di ruang hampa. Kolaborasi lintas sektor termasuk kemitraan dengan pemerintah, komunitas kreatif, korporasi, hingga dunia pendidikan adalah harga mati yang tidak bisa ditawar agar program-program literasi terus bernyawa.

Arah baru gerakan ini semakin dipertegas ketika malam merayap naik. Di bawah langit malam yang syahdu dalam sesi refleksi bertajuk “Panggung Literasi Budaya Jatim”, suasana dialog lintas generasi pegiat TBM terasa begitu hangat sekaligus kontemplatif.

Di sinilah Dwi Astutik, selaku Pembina Forum TBM Jawa Timur, memaparkan sebuah cetak biru (blueprint) masa depan TBM yang membuat para peserta tertegun. Ia menawarkan konsep konversi aset:

  • Pusat Inkubasi Sosial: TBM harus bertransformasi dari sekadar ruang baca pasif menjadi pusat aktivitas komunal, tempat gagasan-gagasan kreatif warga digodok.
  • Mengolah Modal Sosial Menjadi Kesejahteraan: TBM didorong untuk mampu mengidentifikasi potensi lokal di sekitarnya. Hubungan erat antarwarga yang terjalin di TBM harus dikonversi menjadi aksi nyata baik lewat program pemberdayaan ekonomi, pelatihan keterampilan, maupun pengembangan UMKM berbasis literasi yang berdampak langsung pada isi dompet dan kesejahteraan masyarakat.

“TBM tidak hanya menjadi ruang membaca, tetapi juga ruang tumbuhnya aset sosial masyarakat yang dapat diolah menjadi kekuatan pemberdayaan dan kesejahteraan bersama,” cetus Dwi Astutik optimis.

Menatap Layar 2027: Pesan Solidaritas dari TBM Al-Madinah

Sebagai saksi sejarah sekaligus tuan rumah perhelatan akbar ini, Abdurochman, Founder TBM Al-Madinah, tidak mampu menyembunyikan rasa haru sekaligus syukurnya. Di balik segala keterbatasan teknis dan persiapan logistik sebagai tuan rumah, ia melihat binar optimisme di mata setiap delegasi yang hadir.

“Terima kasih atas segala dukungan, partisipasi aktif, dan peran seluruh peserta Jambore Literasi TBM Jawa Timur. Kegiatan ini telah memberikan dampak positif yang nyata bagi perkembangan literasi di Jawa Timur,” ungkap Abdurochman dengan suara bergetar penuh apresiasi.

Jambore Literasi 2026 mungkin telah usai, namun estafet perjuangan justru baru saja dimulai. Sembari menatap horizon baru menuju Jambore Literasi 2027, Forum TBM Jawa Timur mengirimkan alarm dan pesan kuat ke seluruh pengurus wilayah di kabupaten/kota.

Pesannya lugas: saatnya merapatkan barisan, menanggalkan ego sektoral, dan memperluas ruang-ruang kolaborasi.

Sebab pada akhirnya, gerakan literasi bukan sekadar proyek membagi-bagikan buku gratis. Ini adalah kerja kebudayaan yang panjang dan melelahkan untuk memastikan masyarakat kita tidak sekadar mampu “membaca kata”, tetapi juga memiliki ketajaman nalar untuk “membaca dan mengubah dunia”.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here