Sepak bola Indonesia sedang belajar bersabar.
Belajar berharap.
Dan—yang paling sulit—belajar membandingkan.
Nama Shin Tae-yong sudah kita kenal luar kepala.
Teriakannya di pinggir lapangan.
Gesturnya.
Wajah tegangnya.
Lalu muncul nama baru: John Herdman.
Tenang.
Dingin.
Seperti guru olahraga yang tahu persis apa yang ingin diajarkan.
Keduanya sama-sama pelatih tim nasional.
Tapi cara mereka melihat sepak bola—berbeda.
Shin Tae-yong: Disiplin adalah Segalanya
Shin Tae-yong datang ke Indonesia bukan untuk menyenangkan.
Ia datang untuk membenahi.
Fisik pemain ditingkatkan.
Mental ditekan.
Kesalahan diulang sampai benar.
Banyak yang tidak tahan.
Ada yang cedera.
Ada yang tersingkir.
Tapi hasilnya pelan-pelan terlihat.
Indonesia berani melawan.
Tidak lagi sekadar numpang lewat.
Shin adalah pelatih yang percaya:
kalau tubuh kuat, pikiran akan mengikuti.
Ia membangun fondasi.
Keras.
Kadang terlalu keras.
John Herdman: Emosi adalah Kunci
Herdman berbeda.
Ia bukan tipe yang pertama-tama berbicara soal fisik.
Ia bicara soal rasa percaya diri.
Soal identitas.
Soal “mengapa kamu bermain bola”.
Di Kanada, ia membuat pemain biasa merasa istimewa.
Di Piala Dunia, timnya kalah.
Tapi dunia mendengar Kanada.
Herdman percaya:
kalau pemain yakin pada dirinya, tubuh akan bekerja lebih dari batasnya.
Ia membangun atmosfer.
Bukan tekanan.
Dua Filosofi, Dua Risiko
Shin Tae-yong berisiko membuat pemain patah.
Tapi yang bertahan, jadi baja.
John Herdman berisiko membuat pemain nyaman.
Tapi yang percaya, bisa melompat jauh.
Yang satu membentuk mesin.
Yang lain membentuk jiwa.
Indonesia sedang berada di persimpangan:
kita butuh yang mana?
Publik Indonesia Ingin Jawaban Cepat
Masalahnya bukan Shin atau Herdman.
Masalahnya kita.
Kita ingin hasil cepat.
Tapi tidak mau proses panjang.
Kita ingin menang.
Tapi marah saat pemain ditekan.
Di situlah debat Herdman vs Shin muncul.
Bukan karena siapa yang lebih hebat.
Tapi karena kita sedang bingung:
mau jadi tim kuat atau tim percaya diri?
Padahal, idealnya:
dua-duanya.
Sepak Bola Bukan Tentang Nama
Shin Tae-yong pernah dicaci.
Sekarang dipuji.
Herdman dipuji.
Nanti bisa saja dicaci.
Sepak bola selalu begitu.
Yang penting bukan siapa pelatihnya.
Tapi apakah kita siap sabar.
Karena membangun tim nasional bukan sprint.
Ia maraton.
Dan maraton tidak dimenangkan oleh yang paling berisik.
Tapi oleh yang paling konsisten.





























