Home Budaya Misi Bawa Ibu Naik Haji Jalur Alien! Mengupas ‘Foufo’, Kolaborasi Epik Fiksi...

Misi Bawa Ibu Naik Haji Jalur Alien! Mengupas ‘Foufo’, Kolaborasi Epik Fiksi Ilmiah dan Kearifan Lokal Madura

5
0

KAMINEWS.COM – Pernahkah Anda membayangkan sebuah piring terbang atau Unidentified Flying Object (UFO) nyasar dan mendarat darurat di tengah permukiman padat penduduk yang didominasi oleh pengepul rongsokan asal Madura?

Situasi absurd, kocak, sekaligus menyentuh hati inilah yang disajikan oleh sineas Bayu Skak dalam film terbarunya, Foufo. Di bawah naungan Skak Studios dan SinemArt, film komedi fiksi ilmiah (sci-fi) ini siap menghiasi layar bioskop di seluruh penjuru Tanah Air mulai 9 Juli 2026.

Mendobrak pakem sinema komedi lokal, Foufo tidak sekadar menjual kelucuan dari perbenturan dua dunia yang berbeda, tetapi juga membawa pesan mendalam tentang pengorbanan, bakti anak, dan impian suci menuju Baitullah.

Bentrokan Budaya yang Menghasilkan Komedi Organik

Daya tarik utama Foufo terletak pada kelihaian Bayu Skak dalam meramu elemen sci-fi dengan kehidupan masyarakat grassroots (akar rumput). Film ini menyoroti kehidupan Muslim (diperankan oleh Tretan Muslim), seorang pemuda Madura yang sehari-harinya bekerja mengumpulkan barang-barang bekas.

Masalah memuncak ketika Muslim dikejar tenggat waktu untuk melunasi sisa biaya ibadah haji ibundanya, Ibu Saiqona. Di tengah keputusasaan itu, seekor alien bernama Foufo jatuh ke dalam kehidupannya. Dengan teknologi luar angkasa yang canggih, Foufo secara ajaib membantu Muslim memecahkan masalah ekonominya.

“Kalau dilihat sekilas memang ada unsur alien yang crash landing dan bertemu warga setempat. Tetapi inti ceritanya adalah tentang seorang anak yang sangat berbakti kepada ibunya dan ingin memberangkatkannya haji,” tutur Bayu Skak membongkar fondasi cerita film ini.

Namun, Foufo tidak membiarkan penontonnya bernapas lega terlalu lama. Saat batas waktu pelunasan biaya haji tiba, alien mungil itu kehabisan energi. Muslim pun terperangkap dalam dilema emosional: Menggunakan sumber daya yang tersisa untuk mewujudkan impian suci ibunya, atau menyelamatkan Foufo agar bisa kembali ke kapal induknya?

Kawah Candradimuka bagi 2.500 Talenta Lokal

Komitmen Skak Studios untuk mengusung konsep hyper-lokal patut diacungi jempol. Untuk menjaga keaslian logat dan gestur, produksi film ini melibatkan hampir 90% pemain yang merupakan warga asli Surabaya, Jawa Timur, dan Madura.

Pencarian bakat ini dilakukan melalui open casting besar-besaran di Surabaya Utara. Hasilnya:

  • Antusiasme Fantastis: Audisi ini diserbu oleh lebih dari 2.500 peserta, membuktikan bahwa talenta daerah hanya butuh panggung yang tepat untuk bersinar.
  • Wajah Baru Berkualitas: Sebagian besar pemeran yang lolos adalah aktor non-profesional. Salah satunya adalah Siti Kam, perempuan berusia 63 tahun yang sukses mencuri perhatian untuk memerankan karakter Ibu Saiqona.

Demi memoles akting para cast lokal ini, tim produksi menerapkan standar tinggi. Mereka yang terpilih tidak langsung diterjunkan ke lokasi syuting, melainkan menjalani masa karantina intensif di Jakarta selama dua bulan. Di sana, mereka digembleng lewat proses reading, pendalaman naskah, hingga penyesuaian logat Madura dan Jawa dialek Surabaya.

Tretan Muslim Keluar dari Zona Nyaman

Berperan sebagai tokoh sentral, Tretan Muslim mengaku harus menanggung beban moral dan profesional yang cukup berat. Di film ini, ia tidak bisa sekadar melempar lelucon satire seperti yang biasa ia lakukan di media sosial.

“Rasanya senang, tetapi juga deg-degan karena bebannya cukup besar. Tantangannya selain harus akting serius dan sedih, saya ngomong tiga bahasa di sini: Madura, Indonesia, dan Jawa,” ungkap Tretan Muslim.

Selain Tretan, Foufo juga didukung oleh jajaran cast yang solid, mulai dari komika Benidictus Siregar, Habib Jafar, hingga Ade ‘Bibier’ Kurniyawan yang mengisi suara karakter alien Foufo.

Karya Anak Bangsa yang Menolak Tunduk pada AI

Sisi teknis film ini juga tidak main-main. Visual efek dan desain karakter alien Foufo dikerjakan sepenuhnya oleh Hompimpa, sebuah studio animasi lokal yang berbasis di Surabaya. Langkah ini diambil sebagai bentuk perlawanan kreatif terhadap gempuran Artificial Intelligence (AI) sekaligus membuktikan bahwa animator daerah mampu menciptakan karya sci-fi berstandar tinggi.

Untuk memperkuat estetika lokal, proses syuting dilakukan di kawasan cagar budaya Surabaya Utara seperti Kenjeran dan Bulak Banteng, serta merambah ke Kabupaten Bangkalan, Madura.

Rangkaian perilisan Foufo telah dimulai dengan sangat meriah lewat acara Madura Fest Foufo dan special screening di Kaza Mall Surabaya pada akhir Juni 2026, yang disponsori penuh oleh Kencana Baja Ringan. Seluruh tiket ludes tak bersisa, menjadi sinyal kuat bahwa film ini siap meledak di pasaran.

Jangan lewatkan kisah haru biru dan komedi lintas galaksi ini di bioskop kesayangan Anda mulai 9 Juli 2026!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here