
KAMINEWS.COM-BANYUWANGI Jeritan dan harapan para Peter (Peter Ayam Petelur) sudah mulai menggema di dunia bisnis penyedia telur ayam petelur khususnya saat ini di Kabupaten Banyuwangi, khususnya bagi peternak-peternak kecil yang baru tumbuh atau peternak lama yang hanya punya kapasitas populasi dibawah 1000 ekor, dan kebanyakan mereka menggantungkan usaha ini hanya untuk menghidupi keluarganya.
Peternak ayam petelur rakyat di Kabupaten Banyuwangi tengah menghadapi situasi sulit. Harga telur ayam ras di tingkat peternak terus mengalami penurunan hingga menyentuh angka sekitar Rp19.500 per kilogram, jauh di bawah harga ideal yang mampu menutup biaya produksi.
Kondisi ini membuat banyak peternak rakyat resah. Pasalnya, harga jual telur saat ini dinilai tidak sebanding dengan tingginya biaya operasional, terutama untuk kebutuhan pakan, vitamin, pekerja dan perawatan ternak.
Di sisi lain, berdasarkan data Dinas Pertanian dan Pangan Banyuwangi, sektor peternakan ayam petelur di Banyuwangi sebenarnya memiliki potensi besar. Hingga akhir 2025, tercatat ada sekitar 102 usaha ternak ayam ras petelur, mulai skala mikro hingga menengah, dengan total populasi mencapai 1.474.610 ekor ayam. Produksi telur di Banyuwangi bahkan mencapai sekitar 1,8 ribu ton dan selama ini menjadi salah satu penopang kebutuhan telur di wilayah Banyuwangi dan sekitarnya, dan belum lagi saat ini di tahun 2026 ada lonjakan peternak-peternak baru yang berdiri dari Desa untuk ketahanan pangan yang di prakarsai oleh Bumdes
Namun, melimpahnya produksi kini justru menjadi tantangan tersendiri ketika harga pasar terus merosot. Banyak peternak mengaku margin keuntungan semakin tipis, bahkan tak sedikit yang harus menanggung kerugian setiap hari.
“Kalau harga terus berada di angka segini, peternak kecil bisa tidak sanggup bertahan. Biaya pakan terus naik, tapi harga telur justru turun,” keluh salah satu peternak ayam petelur di Banyuwangi. Kondisi serupa sebelumnya juga pernah terjadi dan berdampak besar pada keberlangsungan usaha peternak rakyat.
harga jagung yang sebelumnya berkisar Rp 5.500 per kilogram kini naik menjadi sekitar Rp 6.700 per kilogram. Sedangkan harga konsentrat yang sebelumnya masih di kisaran Rp 400.000, kini mencapai Rp 450.000 per 50 kilogram.
Persoalan ini diperparah dengan dugaan lemahnya stabilisasi harga di tingkat pasar. Sejumlah peternak menilai kebijakan harga acuan pembelian belum berjalan optimal sehingga harga di tingkat peternak masih terus tertekan, salah satunya MBG saat ini belum beroperasi sepenuhnya karena musim liburan sekolah panjang.
Padahal, sektor ayam petelur di Banyuwangi tidak hanya menjadi sumber penghasilan masyarakat, tetapi juga berkontribusi pada ketahanan pangan daerah. Sejumlah wilayah seperti Kecamatan Wongsorejo, Rogojampi dan Songgon yang dikenal sebagai sentra produksi telur ayam ras di Banyuwangi.

Peternak berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk menstabilkan harga telur di pasaran. Mulai dari penguatan distribusi, pengawasan rantai perdagangan, hingga intervensi pasar agar peternak rakyat tetap bisa bertahan.
Jika kondisi ini terus berlanjut tanpa solusi, bukan tidak mungkin ratusan peternak ayam petelur rakyat di Banyuwangi akan bongkar kandang, yang pada akhirnya juga berdampak pada pasokan telur dan perekonomian daerah secara keseluruhan.
Salah satu ungkapan yang miris dari Peter Banyuwangi “Demi menyelamatkan ayam ini untuk terus berproduksi dengan berat hati saya dan istri sudah menjual perhiasan dan uang tabungan untuk beli pakan” keluh dari keresahannya pada redaksi.

























