KAMINEWS.COM – Situs purbakala di Dusun Binong, Desa Plalangan, Kecamatan Sumbermalang, Situbondo ini merupakan bukti nyata kekayaan sejarah Indonesia yang mempertemukan dua era besar: Zaman Megalitikum (tradisi batu besar) dan Era Klasik (Hindu-Buddha/Majapahit).
Berikut adalah penjelasan lebih dalam mengenai peninggalan
1. Sarkofagus (Keranda Batu)
Sarkofagus adalah wadah kubur batu yang biasanya terdiri dari wadah dan tutup. Penemuan sarkofagus di Situbondo menegaskan bahwa wilayah ini dahulu menjadi pusat pemukiman penting pada zaman Megalitikum.
- Fungsi Asli: Sebagai peti jenazah bagi tokoh-tokoh penting atau kepala suku yang dihormati, sering kali disertai dengan bekal kubur (seperti manik-manik atau alat perunggu).
- Simbolisme: Masyarakat megalitik percaya adanya kehidupan setelah kematian, dan sarkofagus berfungsi sebagai “perahu” yang mengantarkan roh leluhur ke dunia arwah.
2. Batu Tangga (Punden Berundak)
Adanya dua versi sejarah yang Anda sebutkan justru memperkaya nilai historis situs ini. Struktur batu berbentuk undakan atau tangga ini dalam arkeologi dikenal sebagai karakter utama Punden Berundak.
- Versi Akulturasi Majapahit: Sangat mungkin terjadi kesinambungan fungsi. Tempat yang dulunya disucikan oleh masyarakat megalitik, kemudian digunakan kembali atau disesuaikan sebagai tempat pemujaan pada masa Majapahit.
- Versi Rute Gunung Argopuro (Dewi Rengganis): Kawasan Sumbermalang memang merupakan salah satu jalur pendakian legendaris menuju petilasan Dewi Rengganis di puncak Gunung Argopuro. Batu tangga ini berfungsi sebagai area sakral atau tempat perhentian ritual (transit site) sebelum menuju ke tempat yang lebih tinggi (yang dianggap lebih suci).
Upaya Pelestarian dan Tantangannya
Langkah pemerintah dengan menempatkan juru pelihara (jupel) khusus di Dusun Binong sudah sangat tepat. Mengingat lokasinya yang berada di kawasan pegunungan, tantangan terbesar situs ini adalah faktor alam (cuaca dan lumut) serta aksesibilitas.
Kesadaran masyarakat lokal dan wisatawan untuk tidak mencorat-coret (vandalisme) atau memindahkan batu sangat diperlukan agar aset tak ternilai ini bisa dinikmati oleh generasi masa depan.
Apakah Anda sedang melakukan penelitian mendalam tentang situs di Sumbermalang ini, atau berencana untuk mengunjunginya secara langsung?Sangat disayangkan sekali mendengar kondisi lapangan yang sesungguhnya terjadi di sana. Yang disampaikan oleh Trijoko, S.Pd selaku guru sejarah, adalah potret nyata sekaligus alarm keras bagi dunia cagar budaya kita.
Selama ini, jika bicara tentang sarkofagus, ingatan kolektif masyarakat atau kurikulum sekolah memang langsung tertuju ke Bali atau tetangga sebelah Situbondo, yaitu Bondowoso yang terkenal dengan sebutan “Kota Megalitikum”. Fakta bahwa Situbondo (khususnya wilayah Sumbermalang) juga menyimpan peninggalan prasejarah sepenting ini justru tenggelam dan jarang diketahui publik.

Ada dua masalah kritis dari informasi yang Anda bagikan yang perlu kita soroti:
1. Sarkofagus di Dalam Dapur Warga (Dusun Binong)
Ketika sebuah benda purbakala berada di dalam area privat seperti dapur rumah, posisinya menjadi sangat serbasingkah.
- Sisi Positifnya: Secara tidak langsung, batu tersebut terlindung dari cuaca ekstrem (hujan dan panas langsung) yang bisa mempercepat pelapukan batu.
- Sisi Negatifnya: Ruang gerak untuk penelitian menjadi terbatas, dan ada risiko terkena aktivitas domestik (asap masakan, benturan alat rumah tangga, atau dialihfungsikan sebagai tempat menaruh barang).
2. Sarkofagus di Kebun Jagung yang Rusak (Dusun Locare Timur)
Ini adalah kondisi yang paling memprihatinkan. Sarkofagus yang terletak di tengah perkebunan atau lahan terbuka sangat rentan terhadap dua hal: perusakan alam dan tangan nakal manusia (vandalisme atau pemburu harta karun purbakala).
Mitos yang Merusak: Banyak kasus perusakan sarkofagus di Indonesia dipicu oleh mitos keliru bahwa di dalam batu tersebut tersimpan emas atau harta karun berharga. Akibatnya, banyak sarkofagus yang dipecah secara paksa oleh oknum tidak bertanggung jawab, padahal isi di dalamnya biasanya hanyalah tulang-belulang, bekal kubur berupa gerabah, atau manik-manik kuno yang nilainya bersifat historis, bukan materiil.
Mengapa Penyelamatan Situs Ini Mendesak?
Kawasan Sumbermalang, baik Desa Plalangan maupun Tlogosari, secara arkeologis merupakan satu kesatuan lanskap budaya prasejarah yang sangat kaya. Jika sarkofagus di Locare Timur dan Binong dibiarkan rusak tanpa pencatatan dan perlindungan ketat (seperti diberi cungkup atau pagar pengaman), kita sedang kehilangan potongan “puzzle” sejarah penting tentang bagaimana manusia purba di utara Jawa Timur ini hidup, bermigrasi, dan menghormati leluhur mereka.
Edukasi dari guru-guru sejarah lokal seperti Tri Joko, S.Pd dan laporan dari warga adalah langkah awal yang sangat krusial agar Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) wilayah setempat bisa segera turun tangan melakukan zonasi dan penyelamatan fisik.
Untuk melihat gambaran bagaimana pelestarian cagar budaya serupa (sarkofagus dan punden berundak) dilakukan di wilayah Situbondo, pembaca KAMINEWS.COM dapat menonton dokumentasi lapangan melalui Dokumentasi Situs Sejarah Sarkofagus Situbondo. Video ini memperlihatkan pentingnya kesadaran generasi muda dalam mendokumentasikan dan menjaga situs megalitikum agar tidak punah ditelan zaman.



























