Oleh: Sudarsono Rahman
Wakil Ketua Umum DPP BariKade Gus Dur dan Ketua PW IPNU Jawa Timur 1988–1992.
KAMINEWS.COM – Menjelang perhelatan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU), sebuah refleksi kritis dan tajam kembali mengemuka. Organisasi Islam terbesar di Indonesia ini kembali diingatkan pada akar sejarah dan tujuan utamanya: bahwa NU tidak pernah didirikan sebagai kendaraan untuk membesarkan segelintir individu, melainkan murni untuk membesarkan umat.
Sudarsono Rahman, Wakil Ketua Umum DPP Barikade Gus Dur yang juga Mantan Ketua PW IPNU Jawa Timur (1988–1991), melontarkan teguran keras sekaligus pengingat spiritual bagi para elite organisasi. Dalam catatannya, ia menegaskan sebuah prinsip luhur yang perlahan rentan terkikis oleh pragmatisme, yakni “Jabatan hanyalah amanah, sedangkan khidmah (pengabdian) adalah tujuan sejati.”

Menanti Gagasan, Bukan Sekadar Berebut Jabatan
Setiap kali kalender NU mendekati forum Muktamar, jutaan warga Nahdliyin di akar rumput selalu menaruh harapan besar. Mereka mendamba forum musyawarah tertinggi ini tidak hanya terjebak pada selebrasi pergantian kepemimpinan, melainkan menjadi rahim yang melahirkan gagasan-gagasan besar untuk menjawab tantangan masa depan umat. Muktamar semestinya menjadi panggung adu ide, perumusan strategi peradaban, dan pencarian solusi atas permasalahan sosial-ekonomi masyarakat.
Namun, realita yang sering tersaji terkadang jauh dari harapan. Kritik menukik diarahkan kepada barisan elite yang dinilai terlalu sibuk bermanuver memperebutkan kursi jabatan struktural. Energi yang seharusnya dipakai untuk merumuskan program pemberdayaan keumatan, justru kerap terkuras habis dalam hiruk-pikuk intrik dan lobi-lobi kekuasaan.
Hal ini menjadi ironi tersendiri. Ketika para elite terlalu sibuk dengan kalkulasi politik internal, esensi utama Muktamar sebagai forum “musyawarah ulama” justru terpinggirkan.
Mengembalikan Khitah Pengabdian
Refleksi yang disampaikan oleh Sudarsono Rahman bak alarm pengingat bagi seluruh pemangku kepentingan di tubuh NU. Jika organisasi hanya dipandang sebagai panggung untuk mengejar gengsi dan status sosial elitnya, lantas sebuah pertanyaan mendasar patut dilontarkan: Untuk siapa sebenarnya NU hari ini?
Para muassis (pendiri) NU di masa lalu mewariskan jam’iyah ini dengan cucuran keringat dan keikhlasan, demi membentengi akidah umat dan merawat bangsa. Oleh karena itu, Muktamar mendatang sudah sepantasnya dikembalikan pada rel utamanya. Perebutan posisi struktural tidak boleh menenggelamkan urgensi pembahasan nasib jutaan jamaah di tingkat ranting yang masih berjuang melawan kemiskinan dan ketertinggalan pendidikan.
Di tengah kompleksitas zaman, warga Nahdliyin merindukan sosok pemimpin yang meletakkan ego pribadinya di titik terendah demi kepentingan umat yang lebih luas. Kini saatnya elite NU membuktikan bahwa khidmah kepada umat bukanlah sekadar jargon manis di atas mimbar, melainkan napas pergerakan organisasi yang sesungguhnya.



















